Perempuan & Pastel dalam cerpen “Jawa, Cina, Madura
Nggak Masalah
Yang Penting Rasanya” karya M. Shoim Anwar.
Dalam setiap rumah tangga suamilah yang berperanan penting dalam keluarga
karena laki-laki merupakan kepala keluarga yang menjaga dan melindungi keluarganya. Demikian pula tugas seorang istri yang sejatinya melayani dan
menghormati suaminya. Selain itu urusan rumah tanggapun merupakan tugas seorang
istri yang salah satunya yaitu membeli alat-alat kecantikan. seperti
kutipan berikut.
“Mau enaknya saja,” tukasnya. “Aku tambah lebih
capek!”
“Mestinya itu urusanmu,” saya membalas.
“Kalau ingin yang cantik kamu harus berkorban!”
“Malu,” saya membalas pelan.
“Begituan malu. Kasep. Tega-teganya istri disuruh
sendirian.”
“Kebanyakan perempuan melakukannya sendiri.”
“Tiap hari kok melayani melulu dan selalu dibawah suami. Sesekali aku
diatas biar sedikit leluasa bergerak.”
“Sesekali aku juga perlu beristirahat.”
‘Ini pun demi kamu. Kalau kelihatan cantik, kamu juga yang senang ( Anwar. 2014: 133—134)
Dari kutipan di atas
sang istri begitu berani menuntut haknya kepada suami dan tidak menghargai
suami, hal ini tentu saja merendahkan martabat seorang suami sebagai kepala keluarga yang seharusnya suamilah yang berhak mengayomi istri serta keluarga.
Sang istri ingin melepaskan diri dari bentuk penindasan suami terhadapnya tanpa
memandang status ataupun kedudukan laki-laki, dan tugas suami dan istri dalam sebuah keluarga.haruslah saling mengisi
satu sama lain.
Jika kita mengartikan maksud pernyataan yang salah itu dapat membuat kita
salah paham akan maksud dan pengertian yang sesungguhnya. Seperti dalam cerpen
“Jawa, Cina, Madura nggak masalah. Yang penting rasanya” ini yang salah
mengartikan maksud dari ucapan yang dikatakan oleh lelaki cina yang ditemuinya
di toko alat-alat kecantikan. Lelaki Cina tersebut menawarkan dagangannya
dengan berucap “Jawa, Cina, Madura nggak masalah. Yang penting rasanya…” seperti data berikut.
“Jawa, Cina, Madura nggak
masalah. Yang penting rasanya…”
Kali ini jempolnya
didekatkan ke muka saya sambil digerak-gerakkan.
Dijamin puas om. Kulitnya
kuning mulus dan bersih. Montok lagi…,”dia merayu kembali sambil manggut-manggut. ( Anwar. 2014: 135)
Jika orang yang tidak mengerti maksud dari ucapan tersebut ia akan
menganggap bahwa dagangan yang ditawarkan adalah seorang wanita. Namun jika
kita mengetahui maksud dari ucapan tersebut maka kita tidak akan salah paham
maksud dari ucapan tersebut.
Pernyataan yang dimaksud lelaki cina tersebut adalah kue pastel ini
dimaksudkan Ko Han yaitu meskipun berasal dari etnis Jawa, Cina, Madura yang membuat tidak masalah
yang penting rasanya seperti pada data berikut.
“Kue pastel?” katanya
sambil mendongak ke arah saya.
“Ya. Kue itulah yang
ditawarkan laki-laki Cina kepada saya dengan kata-kata yang saya ucapkan tadi.
Kue itu gorengannya bagus hingga kulitnya tampak kuning mulus dan bersih.
Isinya juga penuh sehingga kelihatan montok. Siapapun yang menjual nggak
masalah, yang penting rasa kuenya enak. Dia membawa kue pastel dagangannya itu
ke sana-kemari di sekitar Jalan Pengampon (
Anwar. 2014: 139)
Pernyataan tersebut digunakan oleh lelaki cina yang bernama Ko Han karena
terjadinya penindasan yang didapat oleh para etnis cina yang dilakukan oleh
suatu massa. Keberhasilan yang didapat membuat massa tersebut merasa iri dan
mencari kesempatan untuk menghancurkan seperti pada data berikut.
Sekarang saya
berpikir, mengapa Ko Han selalu menyebut Jawa, Cina, Madura ketika menawarkan.
Ko Han dan keluarganya adalah korban huru hara. Mereka adalah orang-orang yang
suka bekerja keras hingga mencapai keberhasilan. Sementara para pemalas menjadi
pencemburu sehingga mencari kesempatan untuk dapat menjarah. Siapa saja tak
punya kemampuan untuk menolak dilahirkan sebagai etnis tertentu. Barangkali
karena pengalaman hidup yang pahit, sentimen etnis ini dipakai sebagai modal
oleh Ko Han untuk melangsungkan kehidupannya. Dia mungkin ingin membalik
sentimen itu menjadi simpati.
Dari data diatas menunjukkan
tejadinya penindasan pada etnis tertentu yaitu etnis Cina oleh pemalas karena
kecemburuan sosial. Seharusnya dari perbedaan etnis ini kita dapat saling
mengisi satu sama lain bukan malah menghancurkan satu sama lain yang berujung
kesusahan pada etnis yang kalah.