Selasa

Kritik Sastra : Cerpen "Surat Terakhir" Karya M. Shhoim Anwar


Dari pengamatan yang saya baca cerpen yang berjudul Surat terakhir  karya M. Shoim Anwar ini cukup bagus dalam rangkaian ceritanya, sehingga hampir semua penikmat dan pembaca karya sastra tidak menemukan celah sediki tpun dalam cerpen SuratTerakhir ini. pengarang begitu jeli dalam melihat dan memoles situasi yang terjadi di lima belas tahun silam, sehingga pembaca terhanyut dalam suasana romantisme seperti kutipan berikut: “kalau kamu setia, mengapa kamu tidak mengawininya?” pertanyaan bernada mengejek itu  muncul di udara. “saya dipaksa oleh keadaan,” aku membela diri. “jangan mengambinghitamkan keadaan. itu mestinya kamu atasi. yang jelas kamu telah memutuskan cinta seorang perempuan yang tulus (Anwar 2014:142).
Kemudian pada kutipan selanjutnya “Apa maksudmu sus? “kalau sampeyan mencintaiku, cintai juga seluruh keluargaku. itulah permintaan saya.””jadi cintaku kau terima kan?” Susmia menatapku. Bola matanya diarahkan kemukaku. kami sama-sama terdiam beberapa saat. detak jantungku terasa meningkat. Tanganku pelan-pelan kuletakan di pangkuannya. perempuan itu meremas tanganku. (Anwar 2014:143).
Kedua kutipan di atas menggambarkan sebuah hubungan yang rumit tentang pasangan yang dimabuk cinta, namun pada akhirnya hubungan tersebut harus berakhir, karena salah satu sudah tidak sanggup lagi untuk memperjuangankan  hubungan mereka karena dihadapkan diposisi yang serba sulit.
Disini juga pengarang membawa pembaca dalam ke alur crita yang sangat menyedihkan yang di rasakan  dan dialami tokoh dalam cerpen SuratTerakhir karya M. Shoim Anwar.seperti pada kutipan berikut: .Malam itu, aku benar-benar dating ke pernikahan Susmia. Jantungku bergetar-getar. Ternyata tak ada pesta yang ramai. Pernikahan sudah dilangsungkan tadi siang. tapi meja dan kursi masi ditata memanjang. susmia masih belum muncul, katanya masih keluar bersama suami. (Anwar 2014:144).
Tokoh aku yang di gambarkan dalam kutipan ini benar-benar merasa sedih dan bahkan sangat kecewa dengan semua keputusan yang telah di ambil. seperti juga tanpak pada kutipan berikut: “surat apa?”“ini”istriku menunjukkan setumpuk surat dan foto dari balik punggungnya.”Ngaku enggak!” “Lihat tanggalnya. Itu surat ketika aku masih bujangan dulu.” “Sama saja!” “Kamu pasti ada main lagi!” Dengan cepat istriku mendorong tubuhku. Karena kalah posisi,aku jatuh terjengkal ke pinggir dipan. Kepalaku tertatap tembok. ...(Anwar,2014:146)
Kutipan ini merupakan gambaran beberapa hal yang sering memicu keretakan hubungan suami istri akibat munculnya seseorang yang pernah mengisi hati salah satu diantara pasangan suami istri tersebut. Padahal jika kita telah memutuskan untuk membina sebuah hubungan dalam bentuk pernikahan, kita harus siap menerima konskwensi untuk menghapus kenangan-kenangan indah masa lalu tersebut, tetapi justru dalam novel Surat Terakhir karya M. Shoim Anwar tersebut, sang tokoh justru menyimpan kenangan-kenangan tersebut hingga bertahun-tahun. perhatikan kutipan berikut: “ Usai kubaca, surat itu kudekap erat, lalu kucium, seperti aku mendekap dan mencium sasmia lima belas tahun yang silam. Aku bergelimpangan di atas kasur” (Anwar, 2014: 141).
Dari kutipan ini seakan jelas sekali bahwa penulis ingin menggambarkan sebuah masalah yang mungkin sering melanda hubungan rumah tangga, yaitu hadirnya pihak ketiga dan seseorang tersebut pernah menjalin hubungan yang spesial sebelum salah satu pasangan membina rumah tangga. apalagi jika dengan sengaja salah satu pasangan tersebut mulai membuka hati untuk seseorang tersebut.
Namun dalam cerpen ini juga pembaca bertanya-tanya bagaimana mungkin surat-surat yang dikirimkan sang kekasih yang sudah bertahun-tahun masih tersimpan dengan baik tanpa sepengetahuan istrinya, padahal jika seorang lelaki sudah mulai berbohong maka sang istri cepat dalam menanggapnya. Tapi secara keseluruha cerpen-cerpen karya M. Shoim Anwar cukup bagus dalam mewakili fenomena yang terjadi di masyarakat dewasa ini.