Oleh: Viju_××
Siang itu kira-kira jarum jam telah bergeser ke arah jam 13:23 WIT, panas terasa menggigit kulit ku yang kian kusam termakan usia. Pada sebuah jendela yang bertirai merah mudah sedikit terasa hembusan angin yang selalu membisik dan membelai jiwa ku. Lalu kusandarkan tubuhku pada sebuah kardus Gudang Garam tempat buku-buku bekas yang belum pernah ku sentuh sejak selesai sekolah.**
Ku ambil Handphone lalu kucoba membuka internet untuk melihat berita penting di seputar Indonesia, juga sekaligus melihat info-info Lowongan Pekerjaan (loker) yang ada di seputar kota. Tak lupa juga aku mengakses akun facebookku yang bernama D’viju Anakota. Di sana kulihat adalah notifikasi merah yang ada di panel pemberitahuan, pesan dan permintaan pertemanan. Setelah membuka semua notifikasi tersebut kemudian aku membuka beranda dan memberikan jempol di beberapa status dan foto teman-teman yang kebetulan sedang online. Kemudian aku melihat foto profil teman ku yang biasa di panggil Sindy. Foto tersebut kemudian aku komentar dan dengan cepat pula Sindy merespon komentar ku saat itu. **
Di situlah terjalin percakapan yang panjang lebar yang kemudian berangsur dari komentar ke inboks untuk menjaga prifasi.. Di inbokspun aku mencoba mngutarakan maksud akan tetapi Sindy hanya menjawabnya dengan santai dan terkadang balek bertanya padaku tentang apa maksud inboksku barusan.**
Dengan iseng pula aku menjelaskan dan menyampaikan maksud aku “Sejak pertama melihatmu, hati ini merasa sangat nyaman bila ada di samping mu. Ijinkan aku untuk menjadi pacar dan membingkai hatimu dengan cintaku. Mau kah kamu jadi pacar ku.?” Itulah maksudku yang seebenarnya. Namun hanya dalam hitungan detik, dengan sigap pula Sindy membalas dengan gaya ketawa khasnya “jhehehe kka maff sdah ada yang lain di hati ini, sudah ada yang membingkainya. Sekali lagi maff. Mendengar jawaban itupun aku diam, diam dan terdiam seribu bahasa tanpa balasann.###
Watunggong, 13 Maret 2015.